you can cook, can you?

untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup gua, gua mengupas bawang, pakai pisau. HOHOHO (alasan yang nggak penting untuk bangga pada diri sendiri).

It’ s kind of ironic. Selang beberapa jam sebelumnya, dalam antrian untuk membayar buku di Gramedia, gua mengobrol santai dengan Banyoh.

Banyoh (melihat buku Bara Patiradjawane di display): wah enak ya kayanya bisa masak, gua pengen deh jadi koki (tertawa).

Gua : wah, bagus dong. Jadi nanti kalo kita nikah lu aja yang masak (tertawa tapi serius).

Banyoh (memandang gua dengan funny looking) : loh, kamu juga harus bisa dong.

Gua : tapi gua gak bisa masak, serius.

Banyoh : tapi kamu kan nanti jadi seorang ibu, seorang ibu kan harus bisa masak. (mulai serius).

Gua : Kenapa? (mulai kesal).

Banyoh : Iya dong sayang, namanya ibu kan harus jadi idola anak-anaknya, harus bisa masak, terus nyuci.

Gua : Nyuciiii??? (kesal beneran)

Banyoh : iya, pake mesin cuci… (tertawa), masaknya juga yang praktis-praktis aja.

Gua (sedikit terhibur oleh beban yang bahkan belum tiba saatnya) : hm, kayak Rachel Ray gitu?

Banyoh : iya kaya gitu, gak harus expert, tapi paling gak bisa.

Gua : Hm. Iya, gua kan gak akan jadi ibu rumah tangga.

Banyoh : iya, makanya belajar masak yang praktis-praktis aja. Belajar aja ke mama (yea.yea..)

Gua : hm.. oke,oke.. gampanglah, masih lama ini.

Apa memang semua laki-laki membayangkan istri yang seperti itu ya? at home, with their kids, cooking breakfast and dinner on time? bukannya gua gak pengen jadi istri yang seperti itu.. tapi, gua gak mau hanya menjadi seperti itu. Dan lebih gak mau lagi, itu menjadi faktor penting dalam ‘kualifikasi istri teladan, guide to chose a wife.’

Gua tau, Banyoh gak mengharapkan hal itu saja dari gua, tapi dari caranya menekankan bahwa cewek harus bisa masak membuat gua merasa bahwa itu adalah hal yang seharusnya bisa perempuan lakukan. Apakah dia gender? Mungkin aja, tapi toh gua bisa memanfaatkan hal itu. Gua sih gak melihat ruginya perempuan harus bisa masak. Tapi kalau dimandatkan rasanya agak berlebihan.But then again, banyak hal yang dimandatkan kepada cowok sebagai kepala keluarga. Jadi, memang Tuhan Maha Adil.

Taunya, Tuhan memberikan sedikit appetizer kepada gua, seperti apa rasanya berada di dapur, lewat acara kumpul2 dadakan yang diadain bokap dan nyokap gua. Beberapa pasang suami istri tetangga dateng dan kita menjamu makanan ringan (mie goreng).

Mie goreng, oh betapa simpel terdengarnya masakan tersebut. Tapi memasak dari nol, not so simple for me. Gua payah sih emang dalam hal masak-memasak. Tapi tadi gua ngupas bawang sampe tangan gua perih-perih, judulnya memang bantuin Yu Ip di dapur, tapi sumpah gitu aja udah kelimpungan (sementara Yu Ip sangat gesit).

Akhirnya mie goreng pertama gua jadi (bumbunya simpel banget sih, cuma bawang putih, kecap, minyak wijen, ayam, merica, sawi, telor, kol, dan tentu saja, mie-nya) seneng deh.

Tapi apa membuat gua jadi pengen masak lagi? NO. NO. NO. at least for now.

Advertisements

One thought on “you can cook, can you?

  1. chita,.. posting-an mu sangat menghibur.
    sangat dirimu sekali..
    gw bahkan bisa membayangkan ekspresi wajah dan intonasi suaramu saat ‘tragedi’ percakapan itu terjadi..

    aku kangen padamu..

    percaya deh ,..gw ga bakal minta dimasakin kok.
    šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s