erased from history

kemarin gua baru beli majalah NatGeo di Cikapundung (this is my heaven for imported mags, I bought NatGeo for 20.000 rupiah, while on the bookstore it cost almost 80.000), anyway I always save the best piece for last, and that piece for this month NatGeo is the story of Hathshepsut.

gua selalu suka dengan sejarah, terutama dengan romansa di baliknya.. hohoho. cerita ini tentang seorang wanita pertama dalam sejarah mesir kuno yang bertindak sebagai raja (pharaoh). Hathshepsut seharusnya nggak jadi raja, walaupun dalam dirinya mengalir darah biru dari raja-raja sebelumnya. Tetapi karena suaminya (yang saat itu adalah raja Thutmose II) meninggal karena serangan jantung dan pewaris tahta, Thutmose III, anak tiri Hathshepsut, masih terlalu kecil, (Thutmose II dan Hathshepsut punya anak perempuan, sementara pewaris tahta harus anak laki-laki, walaupun anak selir), maka Hathshepsut memegang kekuasaan.

wajarnya, begitu Thutmose III dewasa, maka Hathshepsut harus memberikan tahta kepadanya. tetapi entah kenapa, Hathshepsut terus memegang kekuasaan, dan Thutmose III menjadi semacam wakilnya, selama 21 tahun. ahli sejarah Egypt banyak berspekulasi mengenai mengapa ini terjadi, apakah karena Hathshepsut menginginkan kekuasaan? atau karena dalam dirinya mengalir darah biru yang asli? atau karena dia memang memimpin lebih baik?

anyway, spekulasi itu masih terus menjadi spekulasi. Tapi, selama masa 21 tahun kekuasaannya, Hathshepsut banyak membuat bangunan hebat. Sepertinya, karena takut ia dilupakan, Hathshepsut mengukir sebuah kata-kata pada sebuah Obelisk di Karnak, “Now my heart turns this way and that, as I think what the people will say. Those who see my monuments in years to come,and who shall speak of what I have done.”

Ketika Hathshepsut meninggal (diperkirakana karena diabetes), Thutmose III akhirnya memegang tahta. Entah karena benci pada ibu tirinya atau alasan politik, Thutmose menghapuskan Hathshepsut dari sejarah. Tulisannya di Obelisk di tutup oleh batu (yang malah merupakan keuntungan, karena kondisinya terjaga baik hingga sekarang), menambal gambar-gambar Hathshepsut sebagai raja dengan batu, bahkan menukar muminya.

selama beberapa dekade, ahli sejahrawan mencari-cari pharaoh yang hilang ini. Ketika ditemukan mummy Hatshepsut sama sekali tidak mengenakan baju kerajaan, perhiasaan atau bahkan diperlakukan layaknya bangsawan. yang membuatnya berbeda adalah pose tangannya yang tertekuk di dada, merupakan ciri dari pose para ratu. Tetapi tidak ada yang dapat membuktikan bahwa ini adalah Hathsepsut, apalagi ada 2 mummy yang bernamakan Hathsepsut.

Setiap mummy yang di awetkan, organ-organ tubuhnya disimpan dalam guci. pada guci liver Hathshepsut, terdapat sepotong gigi. Rupanya para embalmer pada jaman itu, memasukkan gigi hathshepsut yang tanggal ke dalam guci berisi liver-nya. Karena gigi itulah, parah ahli akhirnya dapat mencocokkan dengan mummy Hathsepsut.

akhirnya Pharaoh yang hilang, she-king dari jaman Mesir Kuno ditemukan. oh, and did you know, she wielded more power than two ancient Egyptian women, Cleopatra and Nefertiti.

Anyway, it is more interesting if you read the story on NatGeo April 2009 issue, written by Chip Brown

Advertisements

One thought on “erased from history

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s